Minggu, 07 Juli 2013

UAS Psikologi Dakwah



UJIAN AKHIR SEMESTER (TAKE HOME EXAM)
JAWABLAH PERTANYAAN BERIKUT DENGAN SINGKAT DAN TEPAT!
1.      Berikan penjelasan tentang pentingnya psikologi dakwah dalam kajian ilmu dakwah!
2.      Berikan analisis terhadap keberadaan dai dan mad’u dengan menggunakan pendekatan psikologi!
3.      Berikan penjelasan tentang pendekatan psikologis dalam komunikasi dakwah!
4.      Berikan penjelasan tentang dakwah persuasif!
5.      Berikan satu contoh praktik dakwah dan lakukan analisis dengan teori dakwah persuasive


JAWABAN !!

1.       Islam adalah agama dakwah, agama menyebarluaskan kebenaran dan mengajak orang-orang yang belum mempercayainya untuk percaya menumbuhkan pengertian dan kesadaran agar umat islam mampu menjalani hidup sesuai dengan perintah di anggap sebagai tugas suci yang merupakan tugas setiap muslim. Dengan demikian setiap muslim berkewajiban untuk berdakwah. Dalam melaksanakan tugas dakwah seorang dai di hadapkan pada kenyataan bahwa individu individu yang akan di dakwahi memiliki keberagaman dalam berbagai hal, seperti pikiran-pikiran pengalaman kepribadian dan lain-lain. Keberagaman tersebut akan memberi corak yang berbeda pula dalam menerima dakwah (materi dakwah) dan menyikapinya karena itulah untuk mengefektifkan usaha dakwah seorang dai  di tuntut untuk memehami mad’u yang akan di hadapi. Denga kata lai seorang dai di tuntut menguasai studi psokologi yang mempelajari tantang  kejiwaan manusia sebagai individu maupun anggota masyarakat, baik pada fase perkembangan manusia, anak, remaja,dewasa, dan manula. Sehingga psikologi dakwah dalam penyebaran dakwah sangat penting karena psikologi dakwah dapat membantu dan memberikan pandangan kepada para dai tentang pola dan tingkah laku para mad’u dan hal-hal yang mempengarhi tingkah laku tersebut yang berkaitan dengan aspek kejiwaan (psikis) sehingga mempermudah para dai untuk mengajak mereka kepada apa yang di kehendaki ajaran islam.

2.       Keberadaan Da’i dan Mad’u dalam pendekatan psikologi dakwah
a.       Dalam pendekatan Psikoanalis
Dalam psikologi yang melukiskan manusia sebagail makhluk yang digerakkan oleh keinginan-keinginan yang terpendam. Dalam proses dakwah, da’i mempunyai keinginan untuk menyebarkan agama islam dan mad’u ingin mengetahui dan belajar lebih dalam tentang agama islam. Keberadaan antara keduanya saling berhubungan untuk proses dakwah. Tidak ada salah satunya proses dakwah tidak bisa diteruskan.
b.      Pendekatan Behaviorisme
Dalam psikologi yang melukiskan manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh lingkungan. Semua yang dilakukan da’i maupun mad’u atas dorongan atau pengaruh lingkungan seperti halnya menjadi da’i yang baik bisa terbentuk dari lingkungan kelurganya yang sejak kecil di pondok hal itu mengakibatkan stimulus-stimulis positif ada dan merangsang untuk melakukan dakwah. Kalau mad’u seperti halnya seorang santri lingkungannya sangat mendukung kegiatan dakwah dan belajar agama islam karena mereka mempunyai landasan dan keimanan dan menjadikan seorang mad’u mengambil apa yang mereka liat, dengar dan pelajari dari seorang da’i dan menerapkan kedalam kehidupannya. Bukan hanya seorang santri orang awampun juga biasa. Karena semua yang dilakukan manusia akan dipengaruhi lingkungannya.
c.       Pendekatan Kognitif
Psikologi yang melihat manusia sebagai makhluk yang aktif mengorganisasi dan mengolah stimuli yang diterimanya. Dalam berdakwah da’i mempunyai cara menyampaikan materi dakwah dengan cara berbeda-beda, maka dari itu pemilihan cara yang tepat akan menjadikan da’i tersebut sukses dalam berdakwahnya. Ilmu yang disebarkannyapun tidak saja hilang seiringnya waktu tapi akan terus dipegang oleh mad’u. Dengan seprti itu mad’u bisa mengelolah apa yang mereka dapat dari da’i dengan menerapkan kepada kehidupan ambil yang baik buang yang buruk.
d.      Pendekatan humanistik
Menggambarkan manusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transak-sional dalam lingkungannya. Aktif dalam berdakwah dan belajar metode apa yang cocok digunakan seorang da’i. Dengan begitu da’i bisa melihat ketika berada didalam lingkungan yang berbeda dan metode apa yang digunakannya sehingga mad’u dapat mengambil dan mengerti apa yang disampaikan. Da’i harus masuk didalam lingkungan mad’u ketika berdakwah dengan cara tersebut maka mad’u dengan mudah dan percaya da’i selain itu akan membawa dampak positif dalam kehidupan mad’u.

3.      Dalam ajaran islam komunikasi mendapat tekanan yang cukup kuat bagi manusia sebagai anggota masyarakat dan sebagai mahluk Tuhan. Dalam interaksi antara Da’i dan Mad’u, da’i dapat menyampaikan pesan-pesan dakwah (materi dakwah) melalui alat atau sarana komunikasi yang ada. Komunikasi dalam proses dakwah tidak hanya di tujukan untuk memberikan pengertian, mempengaruhi sikap, membina hubungan sosial yang baik, tapi tujuan terpenting dalam komunikasi adalah mendorong Mad’u untuk bertindak melaksanakan ajaran-ajaran agama terlebih dahulu memberikan pengertian, mempengaruhi sikap, dan membina hubungan baik. Proses bagaimana mad’u menerima informasi mengolahnya, menyimpan dan menghasilkan informasi dalam psikologi komunikasi. Proses ini meliputi sensasi, presepsi, memori dan berpikir.
a.       Sensasi
Dalam psikologi komunikasi sensasi berarti proses menangkap stimulus. Fungsi indra yang menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Melalui alat indra manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu melalui alat indralah manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Dalam kegiatan dakwah ketika seorang da’i tampil ke mimbar maka stimuli yang ditangkap mad’u pada awalnya adalah sosok tubuhnya kemudian setelah berpidato mad’u menangkap stimuli suaranya dan seterusnya.
b.      Presepsi
Presepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa dan hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Faktor yang besar pengaruhnya dalam mempresepsi sesuatu adalah perhatian konsep fungsional dan konsep struktural.
c.       Memori
Apa yang ditangkap pancaindra (sensasi) kemudian diubah menjadi informasi (presepsi) selanjutnya di simpaan di dalam memori (ingatan). Dengan demikian memori adalah suatu sistem yang sangat berstruktur yang menyebabkan organisme sanggup merekam faktor tentang dakwah.
d.      Berpikir
Berpikir seseorang melibatkan sensasi, presepsi dan memori sekaligus. Dalam kehidupan berpikir diperlukan untuk memecahkan persoalan, untuk mengambil keputusan dan untuk memecahkan persoalan untuk mengambil keputusan dan untuk melahirkan sesuatu yang baru.

4.      Dakwah persuasif adalah upaya merealisasikan ajaran islam dalam segala lapangan kehidupan manusia, baik dengan dakwah bil lisan (pidato,khutbah, dan lain-lain), ataupun memanfaatkan teknologi cetak. Dakwah persuasif dapat diberi batasan sebagai upaya menyebarkan agama islam dengan melihat latar belakang kehidupan mad’u dalam segi psikologinya, sosiologinya, sosial ataupun budaya serta kerangka ideologi politiknya, sehingga sikap dan tingkah lakunya diarahkan sesuai dengan ajaran islam. Atau  dilihat  dari multikonteks kehidupan oleh obyek dakwahnya. karenanya dakwah persuasif merupakan dakwah aplikatif.

5.                  Dakwah lewat radio Suara Giri FM dengan nama program Mutiara Fajar yang dibawakan KH. Abdullah Dzubaidi Rahman setiap hari pukul 05.00 – 06.00 pagi. Dalam ceramahnya beliau banyak berinteraksi dengan mad’u dengan menjawab telepon interaktif dan menjawabnya, memberi solusi atas permasalahan. Setiap hari topiknyapun berbeda-beda, ada salah satu topik yaitu keluarga sakinah dimana topik tersebut menarik untuk diikuti. Karena audiens suara giri rata-rata bapak-bapak dan ibu-ibu, mungkin dengan adanya acara ini dapat membentuk banyak keluarga sakinah. Dalam pendekatan dakwah persuasif dengan memperhatikan kebutuhan dasar manusia maka akan balance jika mengkaji teknik persuasif.

Teknik persuasif Cognitive Dissonance di dalam teknik ini mengambil gejala-gejala hidup dari manusia. Di mana manusia sering perilakunya tidak sesuai dengan pendapat serta sikapnya atau apa yang dilakukannya sering bertentangan dengan keyakinan atau hati nurani. Dengan muda da’i seakan-akan membenarkan perilakunya yang kurang tepat walaupun nuraninya tidak sependapat.
Dalam proses dakwah ini juga menggunakan teknik Emphaty yaitu seseorang memproyeksikan perasaannya dan emosinya kedalam objek pengalaman. Dengan cara ini da’i mampu menempatkan diri dan mengerti apa yang mad’u rasakan. Sehingga da’i bisa mengetahui lebih dalam keadaan mad’u kemudian da’i bisa memberikan solusi dengan mendekatkan diri kepada Allah.
Biasanya juga da’i menggunakan teknik Asosiasi penyampaian sesuatu gagasan dengan jalan menempelkan atau menggabungkan dengan objek yang sedang aktual dan menarik. Dengan menggunakan teknik ini da’i akan berkembang dan tidak ketinggalan zaman, sehingga mad’u lebih mengerti apa yang disampaikan mad’u juga akan banyak mendapat ilmu.






















DAFTAR PUSTAKA



Arifin, M, 1990, Psikologi Dakwah, Jakarta : Bumi Aksara.
Faizah, dan Lalu Muchsin Effendi, 2006, Psikologi Dakwah, Jakarta : Rahmat Semesta.
Jumantoro, Totok, Psikologi Dakwah dengan aspek-aspek kejiwaan yang Qur’ani, Wonosobo : Amzah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar