UJIAN
AKHIR SEMESTER (TAKE HOME EXAM)
JAWABLAH
PERTANYAAN BERIKUT DENGAN SINGKAT DAN TEPAT!
1. Berikan
penjelasan tentang pentingnya psikologi dakwah dalam kajian ilmu dakwah!
2. Berikan
analisis terhadap keberadaan dai dan mad’u dengan menggunakan pendekatan
psikologi!
3. Berikan
penjelasan tentang pendekatan psikologis dalam komunikasi dakwah!
4. Berikan
penjelasan tentang dakwah persuasif!
5. Berikan
satu contoh praktik dakwah dan lakukan analisis dengan teori dakwah persuasive
JAWABAN !!
1.
Islam adalah agama dakwah, agama menyebarluaskan
kebenaran dan mengajak orang-orang yang belum mempercayainya untuk percaya
menumbuhkan pengertian dan kesadaran agar umat islam mampu menjalani hidup
sesuai dengan perintah di anggap sebagai tugas suci yang merupakan tugas setiap
muslim. Dengan demikian setiap muslim berkewajiban untuk berdakwah. Dalam
melaksanakan tugas dakwah seorang dai di hadapkan pada kenyataan bahwa individu
individu yang akan di dakwahi memiliki keberagaman dalam berbagai hal, seperti
pikiran-pikiran pengalaman kepribadian dan lain-lain. Keberagaman tersebut akan
memberi corak yang berbeda pula dalam menerima dakwah (materi dakwah) dan
menyikapinya karena itulah untuk mengefektifkan usaha dakwah seorang dai di tuntut untuk memehami mad’u yang akan di
hadapi. Denga kata lai seorang dai di tuntut menguasai studi psokologi yang
mempelajari tantang kejiwaan manusia
sebagai individu maupun anggota masyarakat, baik pada fase perkembangan
manusia, anak, remaja,dewasa, dan manula. Sehingga psikologi dakwah dalam
penyebaran dakwah sangat penting karena psikologi dakwah dapat membantu dan
memberikan pandangan kepada para dai tentang pola dan tingkah laku para mad’u
dan hal-hal yang mempengarhi tingkah laku tersebut yang berkaitan dengan aspek
kejiwaan (psikis) sehingga mempermudah para dai untuk mengajak mereka kepada
apa yang di kehendaki ajaran islam.
2.
Keberadaan Da’i dan Mad’u dalam pendekatan
psikologi dakwah
a.
Dalam pendekatan
Psikoanalis
Dalam
psikologi yang melukiskan manusia sebagail makhluk yang digerakkan oleh
keinginan-keinginan yang terpendam. Dalam proses dakwah, da’i mempunyai
keinginan untuk menyebarkan agama islam dan mad’u ingin mengetahui dan belajar
lebih dalam tentang agama islam. Keberadaan antara keduanya saling berhubungan
untuk proses dakwah. Tidak ada salah satunya proses dakwah tidak bisa
diteruskan.
b.
Pendekatan
Behaviorisme
Dalam
psikologi yang melukiskan manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh
lingkungan. Semua yang dilakukan da’i maupun mad’u atas dorongan atau pengaruh
lingkungan seperti halnya menjadi da’i yang baik bisa terbentuk dari lingkungan
kelurganya yang sejak kecil di pondok hal itu mengakibatkan stimulus-stimulis
positif ada dan merangsang untuk melakukan dakwah. Kalau mad’u seperti halnya
seorang santri lingkungannya sangat mendukung kegiatan dakwah dan belajar agama
islam karena mereka mempunyai landasan dan keimanan dan menjadikan seorang
mad’u mengambil apa yang mereka liat, dengar dan pelajari dari seorang da’i dan
menerapkan kedalam kehidupannya. Bukan hanya seorang santri orang awampun juga
biasa. Karena semua yang dilakukan manusia akan dipengaruhi lingkungannya.
c.
Pendekatan Kognitif
Psikologi
yang melihat manusia sebagai makhluk yang aktif mengorganisasi dan mengolah
stimuli yang diterimanya. Dalam berdakwah da’i mempunyai cara menyampaikan
materi dakwah dengan cara berbeda-beda, maka dari itu pemilihan cara yang tepat
akan menjadikan da’i tersebut sukses dalam berdakwahnya. Ilmu yang
disebarkannyapun tidak saja hilang seiringnya waktu tapi akan terus dipegang
oleh mad’u. Dengan seprti itu mad’u bisa mengelolah apa yang mereka dapat dari
da’i dengan menerapkan kepada kehidupan ambil yang baik buang yang buruk.
d.
Pendekatan
humanistik
Menggambarkan
manusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transak-sional dalam
lingkungannya. Aktif dalam berdakwah dan belajar metode apa yang cocok
digunakan seorang da’i. Dengan begitu da’i bisa melihat ketika berada didalam
lingkungan yang berbeda dan metode apa yang digunakannya sehingga mad’u dapat
mengambil dan mengerti apa yang disampaikan. Da’i harus masuk didalam
lingkungan mad’u ketika berdakwah dengan cara tersebut maka mad’u dengan mudah
dan percaya da’i selain itu akan membawa dampak positif dalam kehidupan mad’u.
3.
Dalam ajaran islam
komunikasi mendapat tekanan yang cukup kuat bagi manusia sebagai anggota
masyarakat dan sebagai mahluk Tuhan. Dalam interaksi antara Da’i dan Mad’u,
da’i dapat menyampaikan pesan-pesan dakwah (materi dakwah) melalui alat atau
sarana komunikasi yang ada. Komunikasi dalam proses dakwah tidak hanya di
tujukan untuk memberikan pengertian, mempengaruhi sikap, membina hubungan
sosial yang baik, tapi tujuan terpenting dalam komunikasi adalah mendorong
Mad’u untuk bertindak melaksanakan ajaran-ajaran agama terlebih dahulu
memberikan pengertian, mempengaruhi sikap, dan membina hubungan baik. Proses
bagaimana mad’u menerima informasi mengolahnya, menyimpan dan menghasilkan
informasi dalam psikologi komunikasi. Proses ini meliputi sensasi, presepsi, memori
dan berpikir.
a.
Sensasi
Dalam
psikologi komunikasi sensasi berarti proses menangkap stimulus. Fungsi indra
yang menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Melalui alat indra
manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu melalui
alat indralah manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk
berinteraksi dengan dunianya. Dalam kegiatan dakwah ketika seorang da’i tampil
ke mimbar maka stimuli yang ditangkap mad’u pada awalnya adalah sosok tubuhnya
kemudian setelah berpidato mad’u menangkap stimuli suaranya dan seterusnya.
b.
Presepsi
Presepsi
adalah pengalaman tentang objek, peristiwa dan hubungan-hubungan yang diperoleh
dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Faktor yang besar
pengaruhnya dalam mempresepsi sesuatu adalah perhatian konsep fungsional dan
konsep struktural.
c.
Memori
Apa
yang ditangkap pancaindra (sensasi) kemudian diubah menjadi informasi
(presepsi) selanjutnya di simpaan di dalam memori (ingatan). Dengan demikian
memori adalah suatu sistem yang sangat berstruktur yang menyebabkan organisme
sanggup merekam faktor tentang dakwah.
d.
Berpikir
Berpikir seseorang
melibatkan sensasi, presepsi dan memori sekaligus. Dalam kehidupan berpikir
diperlukan untuk memecahkan persoalan, untuk mengambil keputusan dan untuk
memecahkan persoalan untuk mengambil keputusan dan untuk melahirkan sesuatu
yang baru.
4.
Dakwah persuasif
adalah upaya merealisasikan ajaran islam dalam segala lapangan kehidupan
manusia, baik dengan dakwah bil lisan (pidato,khutbah, dan lain-lain), ataupun
memanfaatkan teknologi cetak. Dakwah persuasif dapat diberi batasan sebagai
upaya menyebarkan agama islam dengan melihat latar belakang kehidupan mad’u
dalam segi psikologinya, sosiologinya, sosial ataupun budaya serta kerangka
ideologi politiknya, sehingga sikap dan tingkah lakunya diarahkan sesuai dengan
ajaran islam. Atau dilihat dari multikonteks kehidupan oleh obyek
dakwahnya. karenanya dakwah persuasif merupakan dakwah aplikatif.
5.
Dakwah
lewat radio Suara Giri FM dengan nama program Mutiara Fajar yang dibawakan KH.
Abdullah Dzubaidi Rahman setiap hari pukul 05.00 – 06.00 pagi. Dalam ceramahnya
beliau banyak berinteraksi dengan mad’u dengan menjawab telepon interaktif dan
menjawabnya, memberi solusi atas permasalahan. Setiap hari topiknyapun
berbeda-beda, ada salah satu topik yaitu keluarga sakinah dimana topik tersebut
menarik untuk diikuti. Karena audiens suara giri rata-rata bapak-bapak dan
ibu-ibu, mungkin dengan adanya acara ini dapat membentuk banyak keluarga
sakinah. Dalam pendekatan dakwah persuasif dengan memperhatikan kebutuhan dasar
manusia maka akan balance jika mengkaji teknik persuasif.
Teknik persuasif Cognitive
Dissonance di dalam teknik ini mengambil gejala-gejala hidup dari manusia. Di
mana manusia sering perilakunya tidak sesuai dengan pendapat serta sikapnya
atau apa yang dilakukannya sering bertentangan dengan keyakinan atau hati nurani.
Dengan muda da’i seakan-akan membenarkan perilakunya yang kurang tepat walaupun
nuraninya tidak sependapat.
Dalam proses dakwah ini juga menggunakan teknik Emphaty
yaitu seseorang memproyeksikan perasaannya dan emosinya kedalam objek
pengalaman. Dengan cara ini da’i mampu menempatkan diri dan mengerti apa yang
mad’u rasakan. Sehingga da’i bisa mengetahui lebih dalam keadaan mad’u kemudian
da’i bisa memberikan solusi dengan mendekatkan diri kepada Allah.
Biasanya juga da’i menggunakan teknik Asosiasi
penyampaian sesuatu gagasan dengan jalan menempelkan atau menggabungkan dengan
objek yang sedang aktual dan menarik. Dengan menggunakan teknik ini da’i akan
berkembang dan tidak ketinggalan zaman, sehingga mad’u lebih mengerti apa yang
disampaikan mad’u juga akan banyak mendapat ilmu.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M,
1990, Psikologi Dakwah, Jakarta :
Bumi Aksara.
Faizah, dan
Lalu Muchsin Effendi, 2006, Psikologi
Dakwah, Jakarta : Rahmat Semesta.
Jumantoro,
Totok, Psikologi Dakwah dengan
aspek-aspek kejiwaan yang Qur’ani, Wonosobo : Amzah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar