BAB
I
PENDAHULUAN
Budaya adalah suatu falsafah yang didasari oleh
pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan kekuatan
pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi,
kemudian tercermin dari sikap menjadi prilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat
dan tindakan. Didalam sebuah organisasi
terdapat sebuah budaya, yaitu budaya organisasi yang menurut Osbon dan plastrik
(2000) adalah seperangkat perilaku, perasaan, dan kerangka psikologis yang
terinternalisasi sangat mendalam dan dimiliki bersama oleh anggota organisasi.[1]
Dan didalamnya tentunya ada budaya kualitas yang mereka
butuhkan untuk membangun organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Budaya
kualitas adalah system nilai yang hasilnya kondusif untuk perkembangan kualitas
secara berkelanjutan didalam lingkungan . hal ini mengandung nilai, tradisi,
prosedur dan ekspektasi yang mendukung kualitas suatu oragnaisasi.
Organisasi nirlaba atau organisasi non profit adalah
suatu organisasi yang bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal
di dalam menarik publik untuk suatu tujuan tanpa ada perhatian terhadap hal-hal
yang bersifat mencari laba. Organisasi nirlaba meliputi keagamaan, sekolah
negeri, derma publik, rumah sakit dan sukarelawan.
Organisasi nirlaba memperoleh sumber daya dari
sumbangan para anggota dan para penyumbang lain yang tidak mengharapkan imbalan
apapun dari organisasi tersebut.
Lembaga atau organisasi nirlaba merupakan suatu
lembaga atau kumpulan dari beberapa individu yang memiliki tujuan tertentu dan
bekerja sama untuk mencapai tujuan. Dalam pelaksanaannya kegiatan yang mereka
lakukan tidak berorientasi pada pemupukan laba atau kekayaan semata.
Rumusan masalah
:
a. Adakah
pengaruh budaya kualitas terhadap efektifitas organisasi nirlaba
b. Seberapa
besar pengaruh budaya kualitas tehadap efektifitas organisasi nirlaba
Tujuan
:
a.
Untuk mengetahai
seberapa pengaruhnya budaya kualiatas tehadap suksesnya suatu organisasi
nirlaba.
b.
Memaksimalkan
efektifitas suatu organisasi nirlaba terhadap adanya budaya kualitas
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Budaya
Kualitas
1. Pengertian
Budaya Kualitas
Budaya kualitas adalah system nilai yang hasilnya kondusif
untuk perkembangan kualitas secara berkelanjutan didalam lingkungan . hal ini
mengandung nilai, tradisi, prosedur dan ekspektasi yang mendukung kualitas.
Elemen- elemen yang terdapat di kualitas budaya :[2]
-
Lingkungan
bisnis
-
Nilai
organisasi
-
Role model
budaya
-
Organizational
rites, rituals, dan customs
-
Cultural transmitters
Sistem nilai pengambilan keputusan dari executive-level seringkali dapat merefleksikan budaya organisasi .
ekspectasi merupakan determinan yang penting. Jika seorang manajer memperkakukan pegawai dengan trust, dignity, dan respect, maka pegawai akan memperlakukan sang manajer dengan cara
yang sama. Maka akan timbullah sebuah komitmen.
2. Fondasi Budaya Kualitas
Merupakan
suatu proses untuk mebuat suatu organisasi yang solid, yaitu :
|
Understand – Assess – Plan –
Expect – Model – Orient – Mentor – Train – Monitor- Reinforce and Maintain.
|
3.
Pemeliharaan Budaya Kualitas
a.
Memelihara ancaman kualitas dari isu kunci budaya.
b.
Meyakinkan bahwa ada bukti yang cukup untuk manajemen
kepemimpiman.
c.
Memperkuat pegawai dan mendorong pengembangan dan inisiatif
diri.
d.
Menjaga keterlibatan pegawai.
e.
Menyadari dan menghargai tingkah laku alami dan pemeliharaan
budaya kualitas.
B. Budaya
Kualitas Organisasi Nirlaba
Budaya Kualitas dalam organisasi nirlaba adalah
meningkatkan kualitas, daya saing bagi output (mis: lulusan untuk bidang
pendidikan )
Goetsh
dan Davis seperti yang dikutip oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1996)
yang mengatakan : “kualitas merupakan
suatu kondisi dinamis yang berhubungan produk, jasa, manusia, proses dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”. Dilihat
dari pengertian kualitas yang terakhir seperti tersebut di atas, berarti
kualitas di lingkungan organisasi profit ditentukan oleh pihak luar di luar
organisasi yang disebut konsumen, yang selain berbeda – beda, juga selalu
berubah dan berkembang secara dinamis. Manajemen Mutu Terpadu di lingkungan
suatu organisasi non profit termasuk pendidikan tidak mungkin diwujudkan jika
tidak didukung dengan tersedianya sumber – sumber untuk mewujudkan kualitas
proses dan hasil yang akan dicapai
Di
lingkungan organisasi yang kondisinyan sehat, terdapat sumber-sumber kualitas..
Menurut Hadari Nawawi (2005 : 138 – 141), beberapa di antara sumber – sumber
kualitas tersebut adalah sebagai berikut :[3]
1. Komitmen
Pucuk Pimpinan terhadap kualitas.
Komitmen ini sangat penting karena berpengaruh
langsung pada setiap pembuatan keputusan dan kebijakan, pemilihan dan
pelaksanaan program dan proyek, pemberdayaan SDM, dan pelaksanaan kontrol.
Tanpa komitmen ini tidak mungkin diciptakan dan dikembangkan pelaksanaan fungsi
– fungsi manajemen yang berorentasi pada kualitas produk dan pelayanan umum.
2. Sistem
Informasi Manajemen
Sumber ini sangat penting karena usaha
mengimplementasikan semua fungsi manajemen yang berkualitas, sangat tergantung
pada ketersediaan informasi dan data yang akurat, cukup/lengkap dan terjamin
kekiniannya sesuai dengan kebutuhan dalam melaksanakan tugas pokok organiasi.
3. Sumberdaya
manusia yang potensial
SDM di lingkungan sekolah sebagai aset bersifat
kuantitatif dalam arti dapat dihitung jumlahnya. Disamping itu SDM juga
merupakan potensi yang berkewajiban melaksanakan tugas pokok organisasi
(sekolah) untuk mewujudkan eksistensinya. Kualitas pelaksanaan tugas pokok
sangat ditentukan oleh potensi yang dimiliki oleh SDM, baik yang telah
diwujudkan dalam prestasi kerja maupun yang masih bersifat potensial dan dapat
dikembangkan.
4. Keterlibatan
semua Fungsi
Semua fungsi dalam organisasi sebagai sumber
kualitas, sama pentingnya satu dengan yang lainnnya, yang sebagai satu kesatuan
yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu semua fungsi harus dilibatkan secara
maksimal, sehingga saling menunjang satu dengan yang lainnya.
5. Filsafat
Perbaikan Kualitas secara Berkesinambungan
Sumber – sumber kualitas yang ada bersifat sangat
mendasar, karena tergantung pada kondisi pucuk pimpinan, yang selalu menghadapi
kemungkinan dipindahkan, atau dapat memohon untuk dipindahkan.
Semua sumber kualitas di lingkungan
organisasi nirlaba dapat dilihat manifestasinya melalui dimensi – dimensi
kualitas yang harus direalisasikan oleh pucuk pimpinan bekerja sama dengan anggota yang ada dalam lingkungan tersebut.
Menurut Hadari Nawawi (2005 : 141), dimensi kualitas yang dimaksud adalah :
1. Dimensi
Kerja Organisasi
Kinerja dalam arti unjuk perilaku dalam bekerja yang
positif, merupakan gambaran konkrit dari kemampuan mendayagunakan sumber –
sumber kualitas, yang berdampak pada keberhasilan mewujudkan, mempertahankan
dan mengembangkan eksistensi organisasi .
2.
Iklim Kerja
Penggunaan sumber – sumber kualitas secara intensif
akan menghasilkan iklim kerja yang kondusif di lingkungan organisasi. Di dalam
iklim kerja yang diwarnai kebersamaan akan terwujud kerjasama yang efektif
melalui kerja di dalam tim kerja, yang saling menghargai dan menghormati
pendapat, kreativitas, inisiatif dan inovasi untuk selalu meningkatkan
kualitas.
3. Nilai
Tambah
Pendayagunaan sumber – sumber kualitas secara
efektif dan efisien akan memberikan nilai tambah atau keistimewaan tambahan
sebagai pelengkap dalam melaksanakan tugas pokok dan hasil yang dicapai oleh
organisasi. Nilai tambah ini secara kongkrit terlihat pada rasa puas dan
berkurang atau hilangnya keluhan pihak yang dilayani (siswa).
4. Kesesuaian
dengan Spesifikasi
Pendayagunaan sumber – sumber kualitas secara
efektif dan efisien bermanifestasi pada kemampuan personil untuk menyesuaikan
proses pelaksanaan pekerjaan dan hasilnya dengan karakteristik operasional dan
standar hasilnya berdasarkan ukuran kualitas yang disepakati.
5. Kualitas
Pelayanan dan Daya Tahan Hasil Pembangunan
Dampak lain yang dapat diamati dari pendayagunaan
sumber – sumber kualitas yang efektif dan efisien terlihat pada peningkatan
kualitas dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada siswa.
6. Persepsi
Masyarakat
Pendayagunaan sumber – sumber kualitas yang sukses
di lingkungan organisasi pendidikan dapat diketahui dari persepsi masyarakat
(brand image) dalam bentuk citra dan reputasi yang positip mengenai kualitas
lulusan baik yang terserap oleh lembaga pendidikan yang lebih tinggi ataupun
oleh dunia kerja
C. Implementasi
Total Quality Management pada Organisasi Nirlaba
TQM
sangat populer di lingkungan organisasi
profit, khususnya di lingkungan berbagi badan usaha/perusahaan dan industri,
yang telah terbukti keberhasilannya dalam mempertahankan dan mengembangkan
eksistensinya masing – masing dalam kondisi bisnis yang kompetitif. Kondisi
seperti ini telah mendorong berbagai pihak untuk mempraktekannya di lingkungan
organisasi non profit termasuk di lingkungan lembaga pendidikan.
Menurut Hadari Nawari (2005:46) Manajemen Mutu
Terpadu adalah manejemen fungsional dengan pendekatan yang secara terus menerus
difokuskan pada peningkatan kualitas, agar produknya sesuai dengan standar
kualitas dari masyarakat yang dilayani dalam pelaksanaan tugas pelayanan umum (public service) dan pembangunan
masyarakat (community development).
Konsepnya bertolak dari manajemen sebagai proses atau rangkaian kegiatan
mengintegrasikan sumber daya yang dimiliki, yang harus diintegrasi pula dengan
pentahapan pelaksanaan fungsi – fungsi manajemen, agar terwujud kerja sebagai
kegiatan memproduksi sesuai yang berkualitas. Setiap pekerjaan dalam manajemen
mutu terpadu harus dilakukan melalui tahapan perencanaan, persiapan (termasuk
bahan dan alat), pelaksanaan teknis dengan metode kerja/cara kerja yang efektif
dan efisien, untuk menghasilkan produk berupa barang atau jasa yang bermanfaat
bagi masyarakat.[4]
Pengertian lain dikemukakan oleh Santoso yang
dikutip oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1998) yang mengatakan bahwa “
TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha
dan berorentasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota
organisasi”. Di samping itu Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1998) menyatakan
pula bahwa “ Total Quality Management merupakan suatu pendekatan dalam
menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi
melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses dan
lingkungannya. [5]
Berdasarkan beberapa pengertian di
atas, Hadari Nawawi (2005 : 127) mengemukakan tentang karakteristik TQM sebagai
berikut :[6]
1. Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal
maupun eksternal
2. Memiliki opsesi yang tinggi terhadap kualitas
3. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam
pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
4. Memiliki komitmen jangka panjang.
5. Membutuhkan kerjasama tim
6. Memperbaiki proses secara kesinambungan
7. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
8. Memberikan kebebasan yang terkendali
9. Memiliki kesatuan yang terkendali
10. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.
Di lingkungan
organisasi non profit, khususnya pendidikan, penetapan kualitas produk dan
kualitas proses untuk mewujudkannya, merupakan bagian yang tidak mudah dalam
pengimplementasian Manajemen Mutu Terpadu (TQM). Kesulitan ini disebabkan
oleh karena ukuran produktivitasnya
tidak sekedar bersifat kuantitatif, misalnya hanya dari jumlah lokal dan gedung
sekolah atau laboratorium yang berhasil dibangun, tetapi juga berkenaan dengan
aspek kualitas yang menyangkut manfaat dan kemampuan memanfaatkannya.
Demikian juga
jumlah lulusan yang dapat diukur secara kuantitatif, sedang kualitasnya sulit
untuk ditetapkan kualifikasinya. Sehubungan dengan itu di lingkungan organisasi
bidang pendidikan yang bersifat non profit, menurut Hadari Nawari (2005 : 47)
ukuran produktivitas organisasi bidang pendidikan dapat dibedakan sebagai
berikut :
1.
Produktivitas Internal, berupa hasil yang dapat diukur secara
kuantitatif, seperti jumlah atau prosentase lulusan sekolah, atau jumlah gedung
dan lokal yang dibangun sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.
2.
Produktivitas Eksternal, berupa hasil yang tidak dapat diukur secara
kuantitatif, karena bersifat kualitatif yang hanya dapat diketahui setelah
melewati tenggang waktu tertentu yang cukup lama.
Masih menurut Hadari Nawawi (2005 :
47), bagi organisasi pendidikan, adaptasi manajemen mutu terpadu dapat
dikatakan sukses, jika menunjukkan gejala – gejala sebagai berikut :
1. Tingkat konsistensi produk dalam memberikan
pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan
kualitas SDM terus meningkat.
2. Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak
menimbulkan ketidakpuasan dan komplain masyarakat yang dilayani semakin
berkurang.
3. Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin
meningkat
4. Inventarisasi aset organisasi semakin
sempurna, terkendali dan tidak berkurang/hilang tanpa diketahui sebab –
sebabnya.
5. Kontrol berlangsung efektif terutama dari
atasan langsung melalui pengawasan melekat, sehingga mampu menghemat
pembiayaan, mencegah penyimpangan dalam pemberian pelayanan umum dan
pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
6. Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat
dicegah.
7. Peningkatan ketrampilan dan keahlian bekerja
terus dilaksanakan sehingga metode atau cara bekerja selalu mampu mengadaptasi
perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai cara bekerja
yang paling efektif, efisien dan produktif, sehingga kualitas produk dan
pelayanan umum terus meningkat.
Berkenaan dengan kualitas dalam
pengimplementasian TQM, Wayne F. Cassio dalam bukunya Hadari Nawawi mengatakan
: “Quality is the extent to which product
and service conform to customer requirement”. Di samping itu Cassio juga
mengutip pengertian kualitas dari The Federal Quality Institute yang menyatakan
“quality as meeting the customer’s
requiremet the first time and every time, where costumers can be internal as
wellas external to the organization
Secara singkat dapat digambarkan
diagram komitmen kualitas dalam Manajemen Mutu Terpadu adalah sebagai berikut .
|
||||||||||||
![]() |
||||||||||||
![]() |
||||||||||||
|
||||||||||||
|
||||||||||||
|
BAB
III
KESIMPULAN
Budaya kualitas adalah system nilai
yang hasilnya kondusif untuk perkembangan kualitas secara berkelanjutan didalam
lingkungan. Di lingkungan organisasi non profit, khususnya
pendidikan, penetapan kualitas produk dan kualitas proses untuk mewujudkannya,
merupakan bagian yang tidak mudah dalam pengimplementasian Manajemen Mutu
Terpadu (TQM). Kesulitan ini disebabkan oleh
karena ukuran produktivitasnya tidak sekedar bersifat kuantitatif,
misalnya hanya dari jumlah lokal dan gedung sekolah atau laboratorium yang
berhasil dibangun, tetapi juga berkenaan dengan aspek kualitas yang menyangkut
manfaat dan kemampuan memanfaatkannya
DAFTAR PUSTAKA
Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1998); Total
Quality Management (TQM), Andi Offset : Yogyakarta.
Furqon Chairul, Artikel organization
Culture
Hadari Nawawi (2005); Manajemen Strategik, Gadjah Mada Pers : Yogyakarta
http://fauzanafidya.blogspot.com/2010/10/budaya-kualitas.html

