Minggu, 30 Desember 2012

resum Perkembangan Reksadana Syariah




PERKEMBANGAN REKSADANA SYARIAH
OLEH:  WENANG JOKO P.

A.    Prinsip dan kaidah investasi syariah di pasar modal indonesia
Perkembangan pasar modal  di indonesia cukup mengembirakan hal resebut ternyata membawa dampak positif terhadap perkembangan sistem investasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar syariah, pada sektor pasar modal di indonesia atau yang lebih di kenal dengan istilah pasar modal syariah
Pasar modal syariah di kembangkan dengan tujuan mengakomodir kebutuhan umat islam di indonesia yang melakuan investasi di produk pasar modal yang sesuai dengan prinsip dasar syariah
Sebagai mana di ketahui bahwa indonesia merupakan sebuah negara dengan penduduk yang mayoritas beragama islam hal ini menjadikan indonesia pasar yang sangat potensial untuk produk syariah.
Banyak anggapan di kalangan umat islam sendiri bahwa berinvestasi di sektor pasar modal di satu sisi adalah merupakan sesuatu yang tidak di perbolehkan secara syariah sementara pada sisi yang lain bahwa indonesia juga perlu memperhatikan serta menarik minat investor mancanegara untuk berinvestasi di pasar modal indonesia.
Diversifikasikan produk investasi syariah di pasar modal indonesia di harapkan bisa mewujudkan pasar modal indonesia menjadi suatu market yang bisa menarik para investor yang ingin berinvestasi dengan memperhatikan kesesuaian produk atau insumen yang sejalan dengan kaidah kaidah ajran islam.
A.1 konsep dasar investasi syariah di pasar modal indonesia
Apabila kita melihat dalam Al-Quran dan Hadits sebagai sumber utama ajran islam maka kita dapat melihat beberapa ketentuan mengenai hal tersebut :
“...Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (QS Al Baqarah : 275)
“ Hai orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu...” (QS Al Ma’idah : 1)
“ Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepad Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu yang beriman. Maka jika kamu tak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasullnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat ( dari penggambilan riba), maka bagimu pokok hartamu kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” (QS Al Baqarah : 278-279)
“Rosulloh SAW melarang jual beli (yang mengandung) gharar” (HR Al baihaqi dari Ibnu umar)
“Nabi  SAW melarang pembelian ganda pada satu transaksi pembelian” (HR Abu dawud, al Tirmizhi dan al nasa’I)
Berdasarkan Al-Quran, Hadits dan pendapat para ahli fiqh (ajaran islam, sesuatu yang menyebabkan dilarang atau diharamkan dalam jual beli atau perniagaan yang diaplikasikan pada Pasar Modal dapat kita simpulkan pada  prinsip Pasar Modal Syari’ah dangan keterangan sebagai berikut :
PRINSIP PASAR MODAL SYARIAH
Penyeban haramnya Transaksi
Implikasi di Pasar Modal
Li Dzatihi
Efek yang di perjual belikan harus merespresentasikan barang dan jasa yang halal
Li Ghairihi
Tadlis
Tranparansi informasi
Assymetric informasi di larang

Taqrir / Gharar
Larangan transaksi terhadap obyek yang mengandung ketidak jelasan obyek yang ditrnsaksikan baik fdari sisi pembeli maupun penjual 

Ba’i Najasy
Larangan untuk melakukan rekyasa permintaan untuk mendapatkan keuntungan di atas laba normal dengan menciptakan false demand

Ikhtikar
Larangna melakukan rekayasa penawaran untuk mendapatkan keuntungan di atas laba normal dengan mengurangi supply agar harga jual naik

Riba Fadl
Larangan atas penyukaran efek sejenis dengan nilai nominal yang berbeda

Riba Nasiah
Larangan atas pertukaran efek yang bukan mempresentasikan ‘ayn

Riba Jahiliyah
Larangan atas short selling yang menetapkan bunga atas pinjaman
Tidak Sah akadnya
Rukun dan syarat
Larangan atas semua transaksi yang tidak dilakukan secara spot

Ta’alluq
Transaksi yang settlement-nya dikaitkan dengan transaksi lainnya (menjual saham dengan syarat)

2 in 1
Dua transaksi dalam satu akad dengan syarat
-          Obyek sama
-          Pelaku sama
-          Periode sama


Paraulama mengisstilahkan bai’ menjadi: tukar menukar harta atas  dasar ridho.
Adapun yang menjadi obyek dari pertukaran dapat berupa Ayn dan  Dayn. Ayn adalah benda-benda yang berupa real aset berupa barang maupun termasuk pula jasa dan bisnis. Sedangkan Dayn adalah finacial aset yang berupa uang dan surat berharga. Pertukaran Ayn dengan Ayn lebih dikenal dengan istilah barter. Banyak di lakukan di masyarakat modern adalah pertukaran Ayn dengan Dayn.
A.2 Fatwa DSN yang mengatur tentang kegiatan investasi syariah.
Dewan syariah nasional DSN satu lembaga di bawah MUI yang di bentuk tahun 1999 telah mengeluarkan ketentuan mengenai kegiatan investasi di pasar modal syariah. Ketentuan di tuangkan dalam beberapa fatwa MUI tentang kegiatan investasi yang sesuai syariah. Di antaranya telah di terbitkan enam fatwa Dewan Syariah Nasiaonal Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) yang berkaitan dengan industri pasar modal. Adapun ke enam fatwa yang di maksud:
1.      No.05/DSN-MUI/ IV / 2000 tentang jual beli saham.
2.      No. 20 / DSN-MUI / IX/ 2000 tentang pedoman pelaksanaan investasi untuk Reksadana
3.      No. 32 / DSN-MUI / IX 2002 tentang Obligasi Syari’ah
4.      No. 33 / DSN-MUI / IX / 2002 tentang Obligasi Mudharabah
5.      No. 40 / DSN-MUI / IX / 2003 tentang pasar modal dan pedoman umum penerapan prinsip syari’ah dibidang pasar modal
6.      No. 41 / DSN-MUI / III / 2004 tentang Obligasi Syari’ah.

Fatwa-fatwa tersebut di atas mengatur prinsip-prinsip syari’ah di bidang pasar modal yang meliputi bahwa suatu efek dipandang telah memenuhi ketentuan syari’ah apabila telah memperoleh secara tertulis dari DSN-MUI.
Fatwa DSN Nomor :40/DSN-MUI/X/2003 tanggal 4 Oktober 2003  tentang pasar modal dan pedoman umum penerapan prinsip syariah di bidang pasar modal, telah menentukan tentang kriteria produk-produk investasi yang sesuai dengan ajaran islam. Pada intinya, produk tersebut harus memenuhi syarat dari Dewan Syari’ah, antara lain :
1)      Jenis usaha, produk barang dan jasa yang diberikan serta cara pengelolaan perusahaan Emiten tidak merupakan usaha yang dilarang oleh prisip-prinsip Syariah, antara lain :
a.       Usaha perjudian atau permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.
b.      Lembaga Keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan & ansuransi konvensional.
c.       Produsen,distributor,serta perdagangan makanan dan minuman haram
d.      Produsen,distributor, dan /atau penyediaan barang / jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.
2)      Jenis Transaksi harus dilakukan menurut prinsip kehati-hatian serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi yang di dalamnya mengandung unsur dharar, gharar, maysir, dan zhulm meliputi : najash, ba’i al ma’dun insider trading, menyebarbar luaskan informasi yang menyesetkan untuk m memperoleh keuntungan trnsaksi yang di larang, melakukan investasi pada perusahaan yang pada saat transaksi tingkat (nisbah) hutang perusahaan kepada lembaga keuangan ribawi lebih dominan dari modalnya, margin trading dan ikhtiar. Berdasarkan ketentuan tersebut maka produk-produk investasi di Pasar Modal yang sesuai perinsip syariah tersebut berupa:
a.       Saham
Prosuk investasi berupa saham pada prinsipnya sudah sesuai dengan ajaran islam. Dalam teori percampuran, islam mengenal akad syirkah atau musyarakah yaitu suatu kerjasama antara dua atau lebih pihak untuk melakukan usaha dimana masing-masing pihak menyetorkan sejumlah dana, barang atau jasa.
b.      Obligasi
Obligasi berdasarkan definisinya adalah suatu surat berharga jangka panjang yang bersifat hutang pemegang obligasi dengan kewajiban membayar bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok pada saat jatuh tempo kepada pemegang obligasi.
Menurut ajaran islam maka suatu hutang piutang termasuk kegiatan terbaru (kebijaka), sehingga diharamkan utnuk mendapatkan sesuatu dari kegiatan tersebut.
Sebagai solisi dari permasalahan tersebut maka DSN melalui fatwa Nomor : 32/DSN-MUI/IX/2002 tanggal 14 september 2002 tentang obligasi syariah telah melakukan redifinisi dari pengertian obligasi. Pengertian obligasi syariah dalam fatwa tersebut adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil/ margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Akad-akad yang dapat digunakan dalam penerbitan obligasi syariah antara lain :
1.      Mudharabah
2.      Murabahah
3.      Salam
4.      Istishna
5.      Ijarah

c.       Reksadana
Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Fatwa DSN Nomor : 20/DSN-MUI/IX/200 tanggal 18 april 2000 tentang pedoman pelaksanaan investasi untuk reksadana syariah telah mendefinisikan tentang reksadana syariah adalah reksadana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai milih harta (shahib al-mal/rabb al-maal) dengan manajer investasi sebagai wakil shahib al-mal, maupun antara manajer investasi sebagai wakil shahib al-mal dengan pengguna investasi. Berdasarkan hal tersebut maka batasan untuk produk-produk yang dapat dijadikan portofolio bagi Reksadana Syariah adalah produk-produk investasi sesuai dengan ajaran islam.

B.     Perkembangan investasi Syariah dan Reksadana syariah
Hasil dari penelitian Tim Departemen Keuangan mengungkapkan, ada beberapa hal yang mempengarui perkembangan Pasar Modal Syariah antaralain :
Pertama, perkembangan macam instrumen pasar modal sesuai dengan syariah yang dikuatkan  dengan fatwah DSN-MUI.
Kedua, perkembangan transaksi sesuai syariah atas instrumen pasar modal syariah.
Ketiga, perkembangan kelembagaan yang memantau macam dan transaksi pasar modal syariah (termasuk Bapepam Syariah, Lembaga Pemeringkat Efek Syariah dan Dewan Pengawasan Islamic Market/index).
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Karim Bussiness Consulting tahun 2003, memaparkan bahwa mayoritas saham yang tercatat, diantaranya 263 saham sesuai dengan prinsip syariah dan layak untuk ditransaksikan dalam pasa rmodal syariah. Kesesuaian dalam prinsip tersebut didasarkan kepada produk yang dihasilkan emiten dan transaksi sahamnya di BEJ. Sedangkan sisanya 59 saham tergolong “haram” atau tidak sesuai dengn prinsip syariah, seperti saham perbankan, cunsumer product (minuman keras) dan rokok. Sisanya 34 saham tergolong subhat seperti saham industri perhotelan dan saham mudharat. Selanjutnya pada tanggal 3 juli 2000 PT. Bursa Efek Jakarta (BEJ) telah meluncurkan Jakarta Islamic Index (JII) merupakan “Benchmark” bagi saham-saham yang berisikan saham-saham likuid dan memenuhi prinsip syariah islam.
Hal tersebut mengisyaratkan bahwa sesungguhnya secara tidak langsung sudah cukup banyak saham-saham di BEJ yang ditawarkan memenuhi kriteria untuk berinvestasi secara syariah dan hal tersebut semakin membuka lebar untuk perkembangan investasi secara syariah dilakukan di Pasar Modal di Indonesia.

B.1 Perkembangan Reksadana Syariah di Indonesia
            Sejak diluncurkan reksadana syariah pertama kali yaitu reksadana Danareksa Syariah 25 juni 1997, perkembangan instrumen syariah terus mengalkami perkembangan walaupun lambat namun pasti, terlebih era tahun2002 sampai dengan pertengahan tahun 2004, instrumen syariah baik reksadana maupun obligasi mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan yaitu reksadana sampai saat ini berjumlah 10 reksadana (tidak termasuk 2 reksadana yang tidak aktif/bubar)
B.2 Perkembangan Investasi Syariah di Pasar Modal Luar Negeri
            Prinsip syariah diterapkan pada industri perbankan yaitu ditandai dengan didirikannya bank islam pertama di Cairo pada sekitar 1971 dengan nama “Nasser Social Bank” yang sistem operasionalnya berdasarkan sistem bagi hasil (tanpa riba).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar