BAB I
PENDAHULUAN
Di setiap komunitas selalu ada
pemimpinnya. Peran pemimpin beraneka ragam, di antaranya adalah sebagai
penggerak, motivator, inspirator, penunjuk arah, menyatukan, pelindung,
pengayom, penolong, pembagi kasih sayang, mencukupi serta mensejahterakan, dan
lain-lain. Tugas pemimpin, dengan demikian memang banyak dan berat. Semua peran
itu akan dipertanggung-jawabkan, baik di hadapan manusia yang dipimpinnya
maupun di hadapan Tuhan kelak.
Sebagai penggerak dan motivator,
maka pemimpin harus menjadikan semua orang yang dipimpinnya hidup. Jiwa,
pikiran, dan semangat dari semua orang yang dipimpin menjadi hidup dan
berkembang. Untuk menggerakkan bagi semua yang dipimpinnya, seorang pemimpin
membutuhkan tipe atau gaya yang dimiliki pemimpin untuk memimpin semua orang.
Ir. Soekarno adalah bapak
proklamator, seorang orator ulung yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme
rakyat Indonesia. Beliau memiliki gaya kepemimpinan yang sangat popularistik
dan bertempramen meledak-ledak. Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Ir.
Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideology yang mendasari Negara atau
partai, sehingga konsisten dan sangat fanatic, cocok diterapkan pada era
tersebut.
Pada makalah ini akan dibahas
tentang kepemimpinan dan gaya kepemimpinan Ir. Soekarno
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kepemimpinan
Dalam kehidupan sehari – hari,
baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan
sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata
tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya.
(tolong dicari
definisinya secara bahasa dan istilah- pengertian disamping ini hanya contoh) Menurut arti secara harfiah, pimpin
berarti bimbing. Memimpin berarti membimbing atau menuntun. Pemimpin merupakan
orang yang memimpin ataupun seorang yang menggunakan wewenang serta mengarahkan
bawahannya guna mengerjakan pekerjaan mereka untuk mencapai tujuan tertentu
dari organisasi.
Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa
diantaranya :
Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin
adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk
mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
Menurut Robert Tanembaum,
Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk
mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab,
supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
Menurut Davis and Filley,
Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang
yang melakukan suatu pekerjaan memimpin.
Sedangakn menurut Pancasila,
Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan
membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan
Pancasila adalah :
- Ing Ngarsa Sung
Tuladha : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya
pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya.
- Ing Madya
Mangun Karsa : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan
berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya.
- Tut Wuri
Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani
berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
(tolong disumpulkan dari beberapa pengertian di
atas-disamping ini hanya contoh juga) Dari berbagai definisi yang sudah
dikemukakan di atas bisa disimpulkan bahwa leadership atau kepemimpinan itu
adalah sebuah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, kelompok dan bawahan,
kemampuan untuk mengarahkan tingkah laku orang lain, mempunyai kemampuan
ataupun keahlian khusus di dalam bidang yang diharapkan oleh kelompoknya, guna
mencapai tujuan dari kelompoknya.
B. Tipe
atau Gaya Kepemimpinan
1. Tipe Kharismatik
Tidak banyak hal yang dapat disimak
dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang
ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga
mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya
seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak
pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara
konkret mengapa orang tersebut dikagumi.
.
2.
Tipe
Demokratik
Pemimpin yang demokratik biasanya
memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan
komponen organisasi. Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun
sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan
kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan. Melihat
kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya. Memperlakukan
manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia
Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.
Setelah memahami tipe-tipe kepemiminan diatas pembaca
diajak untuk memahami teori-teori kepemimpinan yang sangat besar manfaatnya untuk mengkaji
sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi telah dapat dilaksanakan secara
efektif serta menunjang kepada produktifitas organisasi secara keseluruhan.
- Tipe Otoriter
(tolong diberi penjelasan)
Seorang pemimpin harus mengerti
tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan
sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :
·
Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory
)
Analisis ilmiah tentang
kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori
sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa
pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal
dengan ”The Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh
dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat
kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui
pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik, mental,
dan kepribadian.
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan
kepemimpinan organisasi, antara lain :
-
Kecerdasan
Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang
tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai
kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya
memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
pengikutnya.
-
Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial
Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal
maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang
dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam
mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
-
Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi
Seorang
pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta
dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang
kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.
-
Sikap Hubungan Kemanusiaan
Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para
pengikutnya mampu berpihak kepadanya
·
Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi
Berdasarkan penelitian, perilaku
seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecendrungan kearah 2 hal.
-
Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin
yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam
hal ini seperti : membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia
berkonsultasi dengan bawahan.
-
Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang
memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat , bawahan mendapat
instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan
hasil yang akan dicapai.
Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana
seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan
terhadap hasil yang tinggi pula.
·
Teori Kewibawaan Pemimpin
Kewibawaan merupakan faktor
penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin
akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun
kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki
oleh pemimpin.
·
Teori Kepemimpinan Situasi
Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus
bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
·
Teori Kelompok
Agar tujuan kelompok (organisasi)
dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan
pengikutnya.
C. Kepemimpinan
Ir. Soekarno
Soekarno memulai karirnya sebagai
pemimpin organisasi pada usia 26 tahun,tepatnya 14 Juli 1927. Pada saat itu
beliau memimpin sebuah partai politik yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI)
yang mempunyai arah perjuangan kemerdekaan bagi Indonesia. Hal ini mengakibatkan para pimpinan PNI
termasuk Soekarno ditangkap dan diadili oleh pemerintahan kolonial Belanda.
Tetapi pada saat didalam proses pengadilan Soekarno malah menyampaikan
pandangan politiknya mengenai gugatannya terhadap pemerintahan yang terkenal
dengan Indonesia menggugat.
Sikap Soekarno sebagai pemimpin bangsa pada saat itu sangat
menekankan pentingnya persatuan dalam nasionalisme, kemandirian sebagai sebuah
bangsa dan anti penjajahan. Hal ini tercermin didalam pidato-pidato beliau
dalam menggelorakan semangat revolusi secara besar-besaran untuk lepas dari
belenggu imperialisme. Akhirnya Soekarno berhasil menggelorakan semangat
revolusi dan mengajak berdiri diatas kaki sendiri bagi bangsanya, walaupun
belum sempat berhasil membawa rakyatnya dalam
kehidupan yang sejahtera. Konsep “berdiri di atas kaki sendiri” memang belum
sampai ketujuan tetapi setidaknya berhasil memberikan kebanggan pada eksistemsi
bangsa. Daripada berdiri diatas hutang luar negeri yang terbukti menghadirkan
ketergantungan dan ketidakberdayaan (neokolonisme). Sikap tersebut
mengakibatkan Belanda membubarkan organisasi PNI sehingga Soekarno dan teman
seperjuangannya bergabung dengan Partindo pada bulan Juni tahun1930. Setelah
melalui perjuangan yang panjang bahkan beliau pernah dipenjara kembali oleh
Belanda namun tidak menyrutkan langkah perjuangannya. Pada akhirnya, pada
tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno bersama Muhammad Hatta berhasil memproklamasikan
kemerdekaan Republik Indonesia menandai berdirinya negara yang berdaulat.
Sebelumnya, ia juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar
(ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berupaya mempersatukan
nusantara. Bahkan ia berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika dan
Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955 yang
kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok. Setelah pemerintahan berjalan di
tangan bangsa Indonesia, Soekarno memimpin pemerintahan dan mengalami berbagai
fase dalam pemerintahannya.
·
Fase Pertama
Pemerintahan Presiden Soekarno (1945-1959) diwarnai semangat
revolusioner, serta dipenuhi kemelut politik dan keamanan. Belum genap setahun
menganut sistem presidensial sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945,
pemerintahan Soekarno tergelincir ke sistem semi parlementer. Pemerintahan
parlementer pertama dan kedua dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir.
Pemerintahan Sjahrir dilanjutkan oleh PM Muhammad Hatta yang merangkap Wakil Presiden.
Kepemimpinan Soekarno terus menerus berada dibawah tekanan militer Belanda yang
ingin mengembalikan penjajahannya, pemberontakan-pemberontakan bersenjata dan
persaingan di antara partai-partai politik. Sementara pemerintahan parlementer
jatuh-bangun. Perekonomian terbengkalai lantaran berlarut-larutnya kemelut
politik. Ironisnya, meskipun menerima sistem parlementer, Soekarno membiarkan
pemerintahan berjalan tanpa parlemen yang dihasilkan oleh pemilihan umum. Semua
anggota DPR (DPRGR) dan MPR (MPRS) diangkat oleh presiden dari partai-partai
politik yang dibentuk berdasarkan Maklumat Wakil Presiden, tahun 1945. Demi
kebutuhan membentuk Badan Konstituante untuk menyusun konstitusi bar
menggantikan UUD 1945, Soekarno menyetujui penyelenggaraan Pemilu tahun 1955, pemilu pertama dan satu-satunya Pemilu
selama pemerintahan pada saat itu. Pemilu tersebut menghasilkan empat
besar partai pemenang yakni PNI, Masjumi, NU dan PKI. Usai pemilu, Badan
Konstituante yang disusun berdasarkan hasil pemilu, mulai bersidang untuk
menyusun UUD baru. Namun sidang-sidang secara terus menerus selama lima tahun
gagal mencapai kesepakatan untuk menetapkan sebuah UUD yang baru. Menyadari
bahwa Negara berada di ambang perpecahan, Soekarno dengan dukungan Angkatan
Darat, mengumumkan dekrit 5 Juli 1959. Isinya : membubarkan Badan Konstituante
dan kembali ke UUD 1945.[1]
Sejak 1959 -1966, Bung Karno memerintahkan dengan dekrit, membatalkan pemilu
dan mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup. Pemerintahan
parlementer yang berpegang pada UUD Sementara, juga jatuh dan
bangun oleh mosi tidak percaya. Akibatnya, kondisi ekonomi kacau.
·
Fase kedua
Pemerintahan presiden Soekarno pada fase yang kedua
(1959-1967) menerapkan demokrasi terpimpin. Semua anggota DPRGR dan MPRS
diangkat untuk mendukung program pemerintahannya yang lebih focus pada bidang
politik. Bung Karno berusaha keras menggirng partai-partai politik ke dalam
ideologisasi NASAKOM – Nasional, Agama dan Komunis. Tiga pilar utama partai
politik yang mewakili NASAKOM adalah PNI, NU, dan PKI. Bung Karno menggelorakan
Manifesto Politik USDEK. Dia menggalang dukungan dari semua kekuatan NASAKOM.
Namun, ditengah tingginya persaingan politik Nasakom itu, pada tahun 1963,
bangsa ini berhasil membebaskan Irian Barat dari cengkraman Belanda. Tahun
1964-1965, Soekarno kembali menggelorakan semangat revolusioner bangsanya
kedalam peperangan (konfrontasi) melawan Federasi Malaysia yang didikung
Inggris. Sementara, dalam kondisi itu, tersiar kabar tentang sakitnya Soekarno.
Situasi semakin runyam tatkala PKI melancarkan Gerakan 30 September 1965.
Tragedy pembunuhan tujuh jenderal Angkatan Darat tersebut menimbulkan situasi
di seluruh negeri dan meyebabkan kondisi politik dan keamanan hampir tak
terkendali. Menyadari kondisi tersebut, presiden Soekarno mengeluarkan Surat
Perintah 11 Maret 1966 kepada Jenderal Soeharto. Ia mengangkat Jenderal
Soeharto selaku Panglima Komando Keamanan dan Ketertiban (kopkamtib) yang
bertugas mengembalikan keamanan dan ketertiban. Langkah penertiban pertama yang
dilakukan Soeharto, sejalan dengan tuntunan rakyat ketika itu, membubarkan PKI.
Soekarno, setelah tragedi berdarah tersebut, dimintai pertanggung jawaban
didalam sidang istimewa MPRS tahun 1967. Pidato pertanggungjawabannya ditolak.
Kemudian Soeharto diangkat selaku Pejabat Presiden dan dikukuhkan oleh MPRS
menjadi Presiden RI yang kedua, Maret 1968.[2]
D. Gaya
Kepemimpinan Ir. Soekarno
Berbicara tentang proklamasi kemerdekaan, maka
secara otomatis kita akan teringan dengan sosok figur Bung Karno sang proklamator
bangsa. Mengilustrasikan sosok Bung Karno, tentu tak sesederhana dan semudah
kita pikirkan. Namun tidak sulit bagi mereka yang cinta dan mengaguminya, di
samping beliau seorang presiden, beliau juga tokoh dan guru bangsa Indonesia.
Beliau adalah seorang pemimpin yang paling disegani dan kharismatik pada
masanya. Suaranya yang lantang dan tegas ketika berpidato, membuat jiwa rakyat
Indonesia berkobar untuk berjuang demi kemerdekaan, gaya bicaranya yang
senantiasa menyihir setiap orang yang mendengarkannya. Cara berpakaianya yang modis
menjadi ciri khas penampilan Bung Karno sebagai pemimpin pada saat itu.
Bung karno adalah sosok pemimpin pemberani dan rela
memberikan segalanya bagi bangsa Indonesia. Tak berlebihan jika kita katakan
Bung Karno adalah pemimpin besar bangsa, tokoh pemersatu rakyat yang terdiri
dari berbagai suku, budaya, agama, yang tinggal di daratan Indonesia dari
Sabang sampai Merauke. Menyatukan rakyat Indonesia adalah misi, mimpi dan
cita-cita terbesar Sukarno. Tentunya dengan ideologi Pancasila dan “Bhinnika
Tunggal Ika” sebagai pondasinya.
Bung Karno
adalah pemimpin yang jujur, kredibel dalam mengemban amanah yang diberikan
rakyatnya. Kecerdasan dan kejeniusan beliau, tidak diragukan lagi oleh bangsa
Indonesia, bahkan beliau tidak hanya dikenal dalam negeri. Pemimpin yang
semangat memperjuangkan konsep ke-Indonesiaan/ kebangsaannya ini, juga disegani
oleh kalangan pemimpin Asia, Afrika dan Amerika. Bahkan beliau pernah
dinobatkan salah satu pemimpin paling berpengaruh di dunia. Bung
Karno, penyambung lidah rakyat Indonesia, yang tegas dan pemberani
memperjuangkan bangsa demi harumnya nama tumpah darah Indonesia.
Revolusi Indonesia dan Bung Karno adalah satu kesatuan yang
tak dapat dipisahkan, karena beliau adalah orang terdepan yang menjadi sumber
inspirasi kemerdekaan bangsa Indonesia, bahkan juga bangsa-bangsa. Terutama
ketika sedang berjuang habis-habisan melawan imperialisme dan kolonialisme pada
saat itu.
Gaya kedua
yang diterapkannya jelas menunjukkan bahwa soekarno merupakan tipe pemimpin
yang demokratis dengan mengedepankan semangat persatuan diatas kepentingan
golongan, kelompok, ras, suku, agama tertentu akan tetapi juga ada yang
menilainya sebagai pemimpin yang bertipe otoriter karena terkesan memaksakan
kebijakan pemerintahanya kepada lembaga legislative pada saat itu. Bahkan idealismenya
terlihat agak otoriter karena memaksakan keputusannya dalam mengatasi krisis
dengan dekrit presiden, dan mengangkat dirinya menjadi presiden seumur hidup
misalnya. Sebagai seorang pemimpin sejati seokarno mampu membawa arah
perjuangan tetap konsisten meskipun banyaknya rintangan yang dihadapinya. Dapat
dijadikan contoh ketika beliau
berkali-kali dipenjara oleh pemerintahan kolonial. Beliau tetap tegar
bahkan semakin lantang dalam menentang penjajahan sampai memperoleh kemerdekaannya.
Dalam hal sebagai inspirator atau seorang idealis Soekarno dapat menunjukkan prestasinya melalui rumusan Pancasila yang
menjadi dasar negara hingga sekarang disamping pemikiran-pemikiran yang lain
seperti Marhaenisme, kemandirian untuk hidup di atas kaki sendiri,
nasionalisme persatuan diatas perbedaan yang ada didalam Negara dan satu
idealism yang controversial mengenai konsep NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan
Komunis) demi tercapainya persatuan bangsa mencapai eksistensinya didalam
mempertahankan kemerdekaan. Sebagai pemimpin yang idealis, Soekarno tidak mudah
terpengaruh dengan keadaan bangsa ketika dihadapkan pada situasi yang sedang
gawat. Beliau tetap berada diatas prinsipnya sendiri dan menghidari campur
tangan asing. Idealis seperti ini tercermin dengan seringnya pergantian sistem
pemerintahan demi mengatasi masalah didalam keadaan yang berbeda-beda. Pada
masa perjuangan menegakkan kedaulatan bangsa, Soekarno layak disebut sebagai
simbol perjuangan karena pada saat itu beliau mampu tampil sebagai diplomat dan
orator yang mampu mengobarkan semangat perjuangan rakyat. Keberanian beliau
terlihat ketika menyuarakan secara berapi-api tentang revolusi nasional, anti
neokolonialisme dan imperialisme. Dan juga kepercayaannya terhadap kekauatan
massa, kekauatan rakyat. Beliau adalah seorang pemimpin yang rendah hati
disamping sebagai seorang pemberani. Sifat ini dapat dilihat dari dalam
karyanya ‘ Menggali Api Pancasila’. Beliau berkata, “ aku ini bukan apa-apa
kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat,
aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat,” Maka pantas apabila
beliau dijadikan simbol perjuangan rakyat karena ketulusannya demi dan
untuk rakyatnya.
ijin copas buat tugas kuliah gan
BalasHapus